Rabu, 12 Januari 2011
Kemacetan Jakarta
Jakarta - Kemacetan rasanya tidak bisa dihindari di Ibukota DKI Jakarta. Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi kemacetan. Pemprov DKI Jakarta tengah menyiapkan jurus-jurus untuk mengurangi kemacetan Jakarta yang semakin hari semakin parah.
"Kita akan mengupayakan pengembangan infrastruktur angkutan umum massal. Busway koridor 9 dan 10 akan segera dioperasikan," kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.
Hal itu disampaikannya dalam acara Silaturrahmi Gubernur dengan pengurus RT/RW, Dewan Kelurahan, Dewan Kota Kabupaten dan tokoh masyarakat, serta peringatan hari kesatuan gerak PKK ke-38 tingkat Provinsi DKI Jakarta tahun 2010 di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (4/12/2010).
Menurut Foke, kalau memang masyarakat setuju tanah milik mereka dibebaskan untuk menambah koridor TransJ, maka Pemprov DKI akan menambahnya. Namun pembebasan tanah masyarakat untuk kepentingan umum harus sesuai ketentuan.
"Kalau masyarakat setuju tanah mereka dibebaskan, saya akan tambah lagi koridornya. Kita tidak akan bebaskan tanah semaunya karena ada ketentuan. Kita akan melakukan secara proporsional," ujarnya.
Untuk mengurangi kemacetan juga, sterilisasi jalur TransJ terus dilakukan. Kendaraan pribadi semakin hari akan terus bertambah. Pemda tidak bisa melarang orang untuk membeli mobil atau motor. Namun Pemda berupaya mengontrol kendaraan pribadi di kawasan tertentu untuk kepentingan semua.
"Tahun lalu saya mencatat 200-300 mobil bertambah dan 600-700 motor baru bertambah. Dari hari ke hari jumlahnya terus meningkat. Saat ini kita sedang melakukan penertiban lalu lintas, penertiban sterililasi jalus busway," ungkapnya.
Selain itu, lanjut Foke, pada tahun 2012, Jl Prof DR Satrio dan Jl Antasari, akan dibangun jalan dua tingkat. Rumah-rumah susun juga akan dibangun di jalan tingkat tersebut.
Pelayanan Buswayyy
elayanan busway koridor IX rute Pinang Ranti-Pluit yang banyak masalah dipastikan bisa berjalan secara optimal pada pekan depan.
"Kami pastikan pekan depan pelayanan busway koridor IX sudah berjalan optimal pekan depan," kata Wakil Gubernur (Wagub) DKI, Prijanto, di Balai Kota DKI, Kamis (6/1), menanggapi banyaknya keluhan warga pengguna jasa busway terkait minimnya armada beroperasi pada koridor terpanjang dari X kopridor bus Trans_Jakarta.
Prijanto menambahkan, sesuai laporan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI, seluruh armada sudah siap dioperasikan. Sehingga, jadwal kedatangan busway (headway) dapat dipastikan maksimal 10 menit.
Dari hasil kajian Dishub DKI dan Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), koridor IX minimal membutuhkan sebanyak 69 armada bus single dan 8 armada bus gandeng (articulated bus). Karena itulah, lanjut Prijanto, sudah ada perbaikan pelayanan busway koridor IX menyusul adanya penambahan dua armada bus single baru.
"Setelah ditambah dua unit armada baru hari ini (Kamis, 6/1) dipantau dari halte Semanggi, headway-nya sudah membaik menjadi rata-rata 10-11 menit,†kata Prijanto.
Sekarang ini, jelas Wagub, koridor IX baru dilayani sebanyak 37 armada single dan 6 bus gandeng. Padahal, sedikitnya armada rute sepanjang 28,8 kilometer itu mengakibatkan waktu tunggu cukup lama mencapai 20-30 menit. Sehingga wajar bila pengguna jasa busway mengeluh.
Sementara itu, ungkap Prijanto, koridor X yang jaraknya sepanjang 21 kilometer dengan 22 halte saat ini dilayani 17 bus gandeng.
"Koridor X sesuai kajian ITDP memerlukan armada sedikitnya 39 bus gandeng. Jadi masih kurang 22 unit bus lagi akan dipenuhi pada 2011," lanjut Prijanto.
Kendati demikian, segala perbaikan layanan yang dilakukan tidak akan optimal tanpa adanya kesadaran masyarakat untuk tidak menyerobot lajur busway.
Karena itu, ujar Wagub, untuk merangsang kesadaran itu, pihaknya berharap agar satuan tugas (satgas) sterilisasi jalur busway yang timnya berasal dari aparat Polda Metro Jaya, Dishub, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Badan Layanan Umum (BLU) Trans-Jakarta, dan aparat Garnisun TNI dapat melaksanakan tugas dengan baik.
"Sterilisasi jalur busway ini sangat menentukan peningkatan perbaikan pelayanan busway ke depan," imbuhnya.
"Kami pastikan pekan depan pelayanan busway koridor IX sudah berjalan optimal pekan depan," kata Wakil Gubernur (Wagub) DKI, Prijanto, di Balai Kota DKI, Kamis (6/1), menanggapi banyaknya keluhan warga pengguna jasa busway terkait minimnya armada beroperasi pada koridor terpanjang dari X kopridor bus Trans_Jakarta.
Prijanto menambahkan, sesuai laporan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI, seluruh armada sudah siap dioperasikan. Sehingga, jadwal kedatangan busway (headway) dapat dipastikan maksimal 10 menit.
Dari hasil kajian Dishub DKI dan Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), koridor IX minimal membutuhkan sebanyak 69 armada bus single dan 8 armada bus gandeng (articulated bus). Karena itulah, lanjut Prijanto, sudah ada perbaikan pelayanan busway koridor IX menyusul adanya penambahan dua armada bus single baru.
"Setelah ditambah dua unit armada baru hari ini (Kamis, 6/1) dipantau dari halte Semanggi, headway-nya sudah membaik menjadi rata-rata 10-11 menit,†kata Prijanto.
Sekarang ini, jelas Wagub, koridor IX baru dilayani sebanyak 37 armada single dan 6 bus gandeng. Padahal, sedikitnya armada rute sepanjang 28,8 kilometer itu mengakibatkan waktu tunggu cukup lama mencapai 20-30 menit. Sehingga wajar bila pengguna jasa busway mengeluh.
Sementara itu, ungkap Prijanto, koridor X yang jaraknya sepanjang 21 kilometer dengan 22 halte saat ini dilayani 17 bus gandeng.
"Koridor X sesuai kajian ITDP memerlukan armada sedikitnya 39 bus gandeng. Jadi masih kurang 22 unit bus lagi akan dipenuhi pada 2011," lanjut Prijanto.
Kendati demikian, segala perbaikan layanan yang dilakukan tidak akan optimal tanpa adanya kesadaran masyarakat untuk tidak menyerobot lajur busway.
Karena itu, ujar Wagub, untuk merangsang kesadaran itu, pihaknya berharap agar satuan tugas (satgas) sterilisasi jalur busway yang timnya berasal dari aparat Polda Metro Jaya, Dishub, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Badan Layanan Umum (BLU) Trans-Jakarta, dan aparat Garnisun TNI dapat melaksanakan tugas dengan baik.
"Sterilisasi jalur busway ini sangat menentukan peningkatan perbaikan pelayanan busway ke depan," imbuhnya.
Kenaikan harga cabai dan sayuran di pasar tradisional di Sragen Jawa Tengah melonjak tajam hingga mencapai 100 persen. Kenaikan ini dipicu pasokan ke sejumlah pasar tradisional di Sragen tidak ada, sementara permintaan tinggi seiring dengan perayaan Hari Raya Natal dan Tahun Baru.
Akibat kenaikan harga cabai yang cukup tajam, membuat penjual nasi dan gorengan di Sragen memilih untuk tutup sementara. Kenaikan harga cabai ini terjadi sejak 10 hari yang lalu sampai sekarang tidak terbendung. Harga cabai rawit yang sebelumnya hanya Rp30.000 menjadi Rp45 .000 per kilo gram (kg). Sementara untuk cabai kriting yang sebelumnya hanya Rp25.000 menjadi Rp50.000 per kg.
Kenaikan tidak hanya harga cabai saja, kenaikan harga juga terjadi pada harga sayuran seperti tomat yang sebelumnya hanya Rp7.000 menjadi Rp10.000 per kg. Begitu juga pada harga kentang yang sebelumnya hanya Rp6.000 menjadi Rp7.500 per kg.
Menurut sejumlah pedagang di pasar bunder Sragen kenaikan ini diakibatkan pasokan ke pasar Bunder tidak ada sama sekiali sementara permintaan tinggi. "Sudah dua pedagang yang memilih tutup sementara , yaitu pedagang makanan dan gorengan," kata Sri Giman, salah satu penjual cabai di Pasar Bunder, Sragen.
Menurut Sri Giman kenaikan harga cabai ini membuat para langganannya mengeluh harga cabai terus naik. "Omset saya juga turun mas akibat para pedagang berhenti kulakan," keluh Sri Giman.
Cerpen : Peradilan Rakyat
Cerpen Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.
"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.
"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."
"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."
Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.
"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."
Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.
"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."
Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.
"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."
"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.
Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.
Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."
Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.
"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."
"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"
Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."
Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."
Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.
"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"
"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.
"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."
"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."
"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."
"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."
Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"
Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"
"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"
"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"
Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.
"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."
"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"
"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.
Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."
Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.
"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."
Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."
Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.
"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."
Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.
Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.
"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.
"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."
"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."
Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.
"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."
Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.
"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."
Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.
"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."
"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.
Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.
Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."
Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.
"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."
"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"
Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."
Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."
Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.
"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"
"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.
"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."
"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."
"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."
"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."
Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"
Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"
"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"
"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"
Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.
"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."
"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"
"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.
Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."
Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.
"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."
Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."
Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.
"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."
Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.
Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?
Gunung Merapi Meletus Selasa, 26 Oktober 2010 | 18:45 WIB
Gunung berapi aktif di Indonesia, Merapi meletus dengan mengeluarkan awan panas yang tercatat sejak pukul 17.02 WIB. " Sejak 17.02 WIB hingga 17.34 WIB terjadi empat kali awan panas dan sampai sekarang awan panas terus muncul susul menyusul tidak berhenti" kata Surono, Kepala Pisat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi di Yogyakarta, Selasa 26 Oktober 2010.
Menurut dia, munculnya awan panas tersebut menjadi tanda sebagai erupsi Gunung Merapi. Awan panas pertama yang muncul pada pukul 17.02 WIb mengarah ke barat. Namun awan panas yang berikutnya tidak dapat terpantau dengan baik karena kondisi cuaca di puncak Merapi cukup gelap dan hujan.
Sirine bahaya di Kaliurang, Sleman berbunyi pada pukul 17.57 WIB. Pada pukul 18.05 WIB Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta menarik semua petugas dari pos pengamatan.
" Pada 2006, awan panas terjadi selama tujuh menit. Namun pada tahun ini, awan panas sudah terjadi lebih dari 20 menit" katanya.
Lamanya awan panas tersebut, lanjut dia, menunjukkan energi yang cukup besar. Pada pukul 18.00 WIB terdengar letusan sebanyak tiga kali yang terdengar dari pos Jrakah dan pos Selo yang disusul dengan asap membumbung setinggi 1,5 kilometer mengarah ke selatan. " Tipe letusan Merapi dipastikan eksplosif" ujarnya.
Banjir Wasior Tewaskan 29 Orang - Banjir Wasior yang terjadi di Papua Barat pada, Senin (4/10/2010) dikabarkan telah menewaskan 29 orang. Sebanyak 103 lainnya dinyatakan hilang.
Jumlah korban tewas dan korban hilang akibat terjadinya banjir Wasior di Papua Barat dinyatakan oleh Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenkes drg Tritarayati, SH, dalam rilis kepada detikcom, Selasa (5/10/2010).
Menurut Tri, 16 orang dievakuasi ke RSUD Kabupaten Nabire dengan kondisi fraktur (patah tulang) 5 orang dan 11 orang luka-luka. Sementara 60 orang dirujuk ke rumah sakit dengan rincian 52 orang dirujuk ke RSUD Nabire, 1 orang ke RS Makassar, dan 7 orang ke RSUD Manokwari.
Menurut laporan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), bencana tersebut juga menghanyutkan staf Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di Kantor Wilayah Kerja (wilker) KKP Wondama sampai ke laut. Saat ini korban selamat, sementara kantor dan peralatan hanyut terbawa air.
Sementara itu, jarak waktu tempuh menuju tempat bencana dilaporkan dari Manokwari 1 jam dengan pesawat, 8 jam dengan kapal laut milik Pelni, dan 16 jam dengan kapal pelayaran rakyat.
Banjir bandang juga mengakibatkan kerusakan fasilitas kesehatan antara lain
Puskesmas Distrik Wasior. Mess dokter serta perawat rusak berat. Rumah dinas dan paramedis rusak ringan dan juga rumah Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Teluk Wondama rusak.
Tri menambahkan, Kemenkes hari ini juga mengirim 5 orang tim kesehatan untuk menangani korban banjir bandang tersebut. Tim bertugas membantu Dinkes untuk menghidupkan sistem layanan kesehatan, melakukan penilaian dan berkoordinasi dalam pemberian bantuan kepada korban.
Selain itu, Kemenkes juga mengirim kantong mayat sebanyak 100 buah, MP-ASI sebanyak 1 ton, dan obat-obatan 1 ton. Proses pengiriman berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Untuk mendukung tim kesehatan pusat, lanjut Tri, Dinkes Kabupaten Nabire juga telah menugaskan 4 tenaga dokter dan 4 perawat serta menyiapkan RSUD dan RS swasta sebagai tempat rujukan. KKP Manokwari memberangkatkan 1 dokter
dan 2 perawat, 1 sanitarian, 1 petugas logistik serta membawa tenda dan obat-obatan.
Dinkes Kabupaten Manokwari juga mengirimkan 3 dokter dan 7 perawat. Dinkes Provinsi Papua Barat sebagai Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) sub regional Papua telah menyiapkan SDM kesehatan dan logistik. PPK regional Makassar mengirimkan orthopedic set.
Banjir Wasior Tewaskan 29 Orang - Banjir Wasior yang terjadi di Papua Barat pada, Senin (4/10/2010) dikabarkan telah menewaskan 29 orang. Sebanyak 103 lainnya dinyatakan hilang.
Jumlah korban tewas dan korban hilang akibat terjadinya banjir Wasior di Papua Barat dinyatakan oleh Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenkes drg Tritarayati, SH, dalam rilis kepada detikcom, Selasa (5/10/2010).
Menurut Tri, 16 orang dievakuasi ke RSUD Kabupaten Nabire dengan kondisi fraktur (patah tulang) 5 orang dan 11 orang luka-luka. Sementara 60 orang dirujuk ke rumah sakit dengan rincian 52 orang dirujuk ke RSUD Nabire, 1 orang ke RS Makassar, dan 7 orang ke RSUD Manokwari.
Menurut laporan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), bencana tersebut juga menghanyutkan staf Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di Kantor Wilayah Kerja (wilker) KKP Wondama sampai ke laut. Saat ini korban selamat, sementara kantor dan peralatan hanyut terbawa air.
Sementara itu, jarak waktu tempuh menuju tempat bencana dilaporkan dari Manokwari 1 jam dengan pesawat, 8 jam dengan kapal laut milik Pelni, dan 16 jam dengan kapal pelayaran rakyat.
Banjir bandang juga mengakibatkan kerusakan fasilitas kesehatan antara lain
Puskesmas Distrik Wasior. Mess dokter serta perawat rusak berat. Rumah dinas dan paramedis rusak ringan dan juga rumah Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Teluk Wondama rusak.
Tri menambahkan, Kemenkes hari ini juga mengirim 5 orang tim kesehatan untuk menangani korban banjir bandang tersebut. Tim bertugas membantu Dinkes untuk menghidupkan sistem layanan kesehatan, melakukan penilaian dan berkoordinasi dalam pemberian bantuan kepada korban.
Selain itu, Kemenkes juga mengirim kantong mayat sebanyak 100 buah, MP-ASI sebanyak 1 ton, dan obat-obatan 1 ton. Proses pengiriman berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Untuk mendukung tim kesehatan pusat, lanjut Tri, Dinkes Kabupaten Nabire juga telah menugaskan 4 tenaga dokter dan 4 perawat serta menyiapkan RSUD dan RS swasta sebagai tempat rujukan. KKP Manokwari memberangkatkan 1 dokter
dan 2 perawat, 1 sanitarian, 1 petugas logistik serta membawa tenda dan obat-obatan.
Dinkes Kabupaten Manokwari juga mengirimkan 3 dokter dan 7 perawat. Dinkes Provinsi Papua Barat sebagai Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) sub regional Papua telah menyiapkan SDM kesehatan dan logistik. PPK regional Makassar mengirimkan orthopedic set.
Kisruh Penjualan Tiket Final AFF, cerminan Kusutnya PSSI
para pengantri tiket sepakbola Final AFF 2010 di Gelora Bung Karno. Ribuan orang yang antre membeli tiket tidak puas dengan layanan PSSI terkait penjualan tiket yang tidak jelas juntrungannya.
Tidak hanya itu saja, harga tiket pun dinaikkan seenak udel oleh pihak penyelenggara tanpa ada alasan yang logis. Bahkan Pihak PSSI terkesan lepas tangan dan selalu mencari pembenaran diri sendiri.
Sejak penjualan tiket dibuka maka sejak itu kekisruhan terjadi. Ribuan pengantri yang mengular panjang untuk mendapatkan tiket final harus menelan kekecewaan. Bagaimana tidak kecewa, bila hanya dilayanai secara manual dengan jumlah panitia yang terbatas dan terkesan tidak profesional. Selain itu, jumlah tiket yang dijual pun tidak pasti. Para pengantri sempat berang ketika melihat ada seorang panitia yang kedapatan memberikan segepok tiket kepada seorang petugas keamanan lewat pintu belakang. Akibatnya bisa ditebak, anarkisme massa pun timbul yang mengakibatkan babak belurnya seorang petugas penjualan tiket.
Banyak pengantri tiket yang menanyakan jumlah kepastian tiket yang dijual di loket. Hal itu mengingat bila ada seribu pengantri dengan jatah masing-masing lima tiket maka baru akan ada lima ribu tiket yang terjual. Tapi antrian belum ada separuhnya, stok tiket di loket penjualan dinyatakan terjual habis. Padahal untuk kelas II dan III saja tersedia hampir 50.000 ribu tiket. Kemana tiket-tiket itu menguap?
PSSI yang memang terkenal tidak becus mengurus sepakbola nasional, ternyata juga sangat tidak peduli terhadap animo masyarakat yang ingin menonton pertandingan final sepakbola piala AFF 2010 di Geloar Bung Karno. Statemen para petinggi PSSI bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan turnamen sepakbola ini masih belum tercover. Sehingga ada alasan untuk menaikan jumlah tiket. Namun ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono maupun Menpora Andi Malaranggeng meminta PSSI untuk menurunkan harga tiket, panitia pun terpaksa menurunkan harga tiket.
Padahal pemasukan dari iklan cukup besar. Salah satu stasiun televisi nasional dikabarkan menggelontorkan puluhan milyar rupiah untuk mendapatkan hak eksklusif penayangan piala AFF 2010. Tidak hanya itu saja, dari banyaknya banner iklan dalam stadion setiap pertandingan tentunya menjadi tolak ukur seberapa besar kocek uang yang masuk ke kantong PSSI.
Kisruhnya penjualan tiket memang menjadi cermin dari kusutnya PSSI dalam melakukan pembinaan olahraga sepakbola di tanah air. Selama ini para pengurus PSSI merasa paling tahu kemana sepakbola Indonesia harus dibawa. Bahkan para pengurus PSSI itu mengklaim bahwa naiknya prestasi tim nasional sepakbola merupakan prestasi kepengurusan PSSI era Nurdin Halid. Tapi agaknya publik, terutama pecandu sepakbola nasional tidak terima dengan klaim para pengurus PSSI. Perlawanan para penggila bola ini diekspresikan dengan beragam spanduk menuntut turunnya para petinggi PSSI dan koor Nurdin Turun selama laga pertandingan sepakbola AFF di gelar di tanah air.
Di sisi lain, liga sepakbola yang dilaksanakan PSSI bukannya menjadi ajang pembinaan dan pengembangan sepakbola nasional, tapi malahan menjadi ajang unjuk perkelahian baik antara pemain maupun juga suporter sepakbola. Bahkan sudah menjadi sebuah ritual, bila ada pertandingan dala liga sepakbola yang dilaksanakan PSSI, bila belum berkelahi maka belum afdol.
Niat beberpa pihak yang akan menyelenggarakan Liga Primer Indonesia (LPI), oleh para pengurus PSSI dianggap sebagai pembangkangan terhadap keputusan PSSI. Tanpa tedeng aling, PSSI mengeluarakan blaklist bagi setiap klub maupun pemain yang berlaga di LPI tidak boleh main dalam laga sepakbola yang diselenggaran oleh PSSI.
Manajemen dan administrasi PSSI yang tidak pernah transparan dan dikuasai segelintir orang yang cari makan membuat sepakbola nasional harus mengalami perkerdilan. PSSI tidak lagi menerapkan pembinaan sepakbola untuk sepakbola itu sendiri. PSSI hanya menjadikan sepakbola sebagai komoditas guna meraup uang sebanyak-banyaknya dari berbagai kesempatan. Tidak peduli prestasi sepakbola nasional melorot asalkan kocek uang masuk ke kantong para pengurus PSSI maka tidak menjadi persoalan.
Sikap kekanakan-kanakan PSSI iitu sangat bertolak belakang dengan umur para pengurus PSSI yang sudah tua. Bukannya semakin tua semakin bijaksana, justru semakin tua semakin berpolah seperti anak kecil yang rebutan mainan.
Mbah Marijan
Misteri keberadaan mbah marijan akhirnya terpecahkan juga, bahwa telah ditemukan dalam keadaan mbah marijan meninggal di dapurnya dalam posisi bersujud.Mbah marijan ditemukan oleh tim SAR dalam keadaan sujud.
Tim evakuasi segera membawa jenazah Mbah Maridjan ke tempat yang lebih aman dan jauh dari jangkauan gunung merapi. Jasad Mbah Maridjan yang lahir pada 1927 ini kini tengah diidentifikasi di rumah sakit.
"Tim mengevakuasi Mbah Maridjan sekitar pukul 05.00 WIB tanggal 27 oktober .Yang sebelumnya berita akan mbah marijan meninggal masih simpang siur, banyak pemberitaan yang mengatakan mbah marijan masih hidup, namun juga ada berita yang mengatakan bahwa mbah marijan sudah meninggal.
Namun kini setelah tim evakuasi melanjutkan pencarian dipastikan Mbah Maridjan meninggal dunia. Di kawasan rumah Mbah Maridjan, ada 16 orang yang ditemukan tewas.
Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu pun sebelumnya mendapatkan kabar bahwa Mbah Maridjan meninggal dunia karena ada jenazah yang mirip dengan pembantu setia (alm) Sultan HB IX itu. Kabar terbaru ini berarti juga meluruskan informasi yang berkembang sebelumnya bahwa pria bergelar Raden Ngabehi Surakso Hargo itu telah diselamatkan dalam kondisi lemas semalam
Siapakah Mbah Marijan?
Bagi orang Yogja, nama itu bisa setenar nama Sultan Hamengkubuwono. Lelaki kelahiran tahun 1927 itu memang ditunjuk sebagai Juru Kunci gunung Merapi oleh Sang Sultan sejak 1982.
Tahun 2006, namanya semakin terkenal karena ia ‘enggan’ turun gunung untuk mengungsi dari desa Kinahrejo yang hanya berjarak 5 km-an dari lereng Merapi. Karena keteguhan dan ketenangannya itu, banyak media massa dan orang yang percaya bahwa beliau memiliki “hubungan khusus” dengan penguasa Merapi, memiliki ilmu dan kesaktian yang menjadikannya tahu apakah Merapi akan meletus atau tidak. Bahkan bagi sebagian orang, ia sendiri disebut sebagai penguasa Merapi.
Maka ketika berita meninggalnya Mbah Marijan di lereng gunung Merapi menyebar, sebagian orang memandangnya dengan sinis. Ironis dan tragis, katanya, sang juru kunci justru tewas di tangan gunung yang dijaganya. Bukan engkau Mbah, yang bisa memerintah Merapi, kata yang lain.
Benarkah gambaran sosok Mbah Marijan yang demikian? Adakah yang mengenal dengan dalam sosok manusia sepuh ini?
Mbah Marijan sebagai Hamba Allah yang Shalih
Bayu Gawtama, salah seorang tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Dompet Dhuafa Republika, berhasil menemuinya pada tahun 2006 dan mengungkap keshalihan pribadi pria beralias Raden Mas Penewu Surakso Hargo ini dalam blognya. Berikut adalah kutipan ungkapan-ungkapan beliau, yang penuh hikmah dan bisa kita ambil pelajarannya.
“Jangan tanya saya, tanyakan kepada Allah. Dia yang mengatur semua, Gusti Allah yang punya kehendak.”
Jawaban si Mbah ketika orang bertanya kapan Merapi akan meletus.
Jawaban si Mbah ketika orang bertanya kapan Merapi akan meletus.
“Kamu itu harus sering melihat ke bawah, jangan ke atas. Lihat nih Mbah, hidupnya seperti ini. Kasih tahu teman-teman yang hidupnya berlebih, contoh Mbah yang sederhana ini,” sambil memperlihatkan gajinya dari Keraton yang cuma Rp. 5.800,-
“Masalahnya, saya diizinkan atau tidak oleh pemerintah kalau saya berdoa kepada Gusti Allah… Cukup semua masyarakat bersama-sama berdoa, boleh dari rumahnya masing-masing, meminta kepada Allah agar Merapi tak jadi meletus.”
“Saya ini orang kecil, hanya berbahasa menggunanakan bahasa orang kecil. Karena itu, omongan saya didengar oleh orang kecil. Bahasa Indonesia itu hanya dipakai oleh orang besar. Dan bahasa Indonesia itu terkesan sombong, saya tak mau dibilang sombong.” (Tentang keengganannya berbahasa Indonesia)
Demikianlah, sebuah gambaran sisi kemanusiaan dari Mbah Marijan yang suka berdzikir di Masjid di depan rumahnya itu. Sosok yang rendah hati dan sederhana. Yang memegang teguh amanat hingga akhir hayatnya meski dengan upah yang tak seberapa. Yang meyakini keterbatasan kemampuan dirinya. Yang takut akan kesombongan dan meyakini sepenuhnya bahwa pada Allah-lah pengetahuan yang ghaib dan kekuasaan yang sebenarnya.
Foto Jasad Sujud Mbah Maridjan - Juru Kunci Gunung Merapi - Beritajatim.com
Semoga sujud kematian Mbah Marijan adalah wujud ketundukannya kepada Allah Sang Raja Semesta.
Langganan:
Postingan (Atom)





